Pada pementasan drama ini, saya masuk dalam dua sie yakni sebagai Scriptwriter dan Lighting. Mula-mula, kami menyusun naskah dan memilih tokoh yang nantinya akan dipentaskan. Pada awalnya, saya ditugaskan untuk menjadi bruder. Namun, setelah percobaan pementasan pertama di bangsal pada Desember 2025 lalu, peran saya ditukar menjadi Frater Bouwens, yakni frater yang juga rela mati bersama Rm. Sandjaja untuk menjaga imannya. Selain itu, saya juga ditugaskan untuk menjadi pengantar salah satu bahasa, yakni bahasa Jawa.
Kami satu kelas bersepakat untuk mencari tempat yang kiranya mudah dijangkau dan digunakan untuk latihan dengan jarak yang tidak terlalu jauh dari sekolah, yakni mall Marvel. Pada Desember lalu, kami juga sempat menggunakan rumah salah satu teman kami untuk pembacaan dan pengenalan karakter masing-masing tokoh yang saat itu saya masih menjadi Bruder. 
Selama jalannya alur cerita, tokoh yang saya perankan muncul dalam beberapa scene. Pertama, saat Frater mencari Romo dengan panik karena panggilan mendesak dari paroki Magelang yang membutuhkan kehadirannya. Yang kedua, adalah saat prosesnya didatangi,diculik, hingga akhirnya disiksa dan mati bersama dengan Rm. Sandjaja. Kami menampilkan adegan penyiksaan menggunakan kain siluet yang dicahayai oleh lampu dari belakang kain. Proses ini membutuhkan waktu yang cukup banyak karena butuh koordinasi yang cepat antara lighting, perkap untuk mengangkat siluet dan ketepatan dengan waktu yang tergolong singkat. Kami berulang kali melatih adegan ini di tempat yang berbeda. Kami memanfaatkan jam saat ada latihan di sekolah maupun di luar sekolah, seperti foto pertama.

Di sekolah, saya selalu berusaha memaksimalkan dan mendalami tokoh yang saya perankan. Saya berusaha mendorong diri saya untuk menjadi sosok yang mampu setia walaupun dihantui dengan rasa takut akan penculikan. Bantuan ini juga datang dari teman-teman sekeliling yang mencoba membantu agar saya mampu mendalami tokoh yang saya perankan untuk menghasilkan sosok Frater yang peduli dan dekat dengan Rm. Sandjaja.
Saya juga selalu menghadiri persiapan-persiapan yang sudah disiapkan oleh sutradara kelas kami.
Setiap kali ada bagian yang melibatkan saya dalam latihan, saya selalu berusaha untuk hadir dan menyempatkan waktu. Saya juga sempat terlibat dalam syuting trailer yang nantinya akan dijadikan sebagai alat promosi untuk meramaikan uprak kami. Selama uprak ini, saya belajar banyak waktu dan tenaga yang kami korbankan tak lain untuk mewartakan tokoh-tokoh Katolik yang rela hingga wafat demi membela Tuhannya. Saya juga belajar bahwa pentingnya koordinasi antar anggota kelas menjadi hal utama yang mampu menjadikan uprak ini dapat berlangsung lancar. Kesalahpahaman dan perselisihan memang terkadang terjadi, namun cara kami mencari solusi dan menyelesaikan dengan cara yang bijak mampu dijadikan sebagai pengalaman dan pembelajaran untuk hal-hal yang akan mendatang.
Berikut adalah foto dokumentasi bersama keseluruhan anggota kelas.
Sejak bulan Januari hingga Februari kami kebanyakan menggunakan studio di Marvel untuk tempat latihan agar mudah dijangkau sepulang sekolah. Jadwal latihan pun beragam, ada beberapa latihan yang hanya memfokuskan pada adegan-adegan tertentu dan juga ada latihan yang mewajibkan agar semua aktor dapat hadir dan melakukan runthrough. Selama proses latihan, saya selalu berusaha untuk percaya pada sesama anggota kelas agar mampu menampilkan satu bentuk drama utuh yang baik dan maksimal. Dengan latihan-latihan yang intens, kami mampu menampilkan pentas drama pada hari H dengan lumayan baik. Hasilnya pun memuaskan dan kami pun lega karena semua tenaga dan waktu yang kami korbankan mampu diinterprestasikan dengan maksimal demi memuliakan nama-Nya.
Berikut adalah foto-foto dokumentasi saat hari H.




Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.