Pementasan drama “Romo Sandjadja: Faith Beyond Fear” telah usai, tetapi bekasnya masih terasa hingga kini. Bagi saya, pengalaman ini bukan sekadar tugas sekolah atau ujian praktek biasa. Ini adalah perjalanan panjang yang menguras fisik, emosi, dan batin, namun sekaligus menjadi guru yang mengajarkan banyak hal tentang seni, pengorbanan, dan kebersamaan. Dalam produksi ini, saya diberi tanggung jawab yang tidak ringan. Saya dipercaya untuk memerankan seorang anak seminari di atas panggung. Di luar peran itu, saya juga merangkap sebagai tim dekorasi, serta bertugas di bidang publikasi dan dokumentasi. Menjalani semua peran ini sekaligus memang melelahkan, tetapi justru dari situlah saya mendapatkan pelajaran paling berharga.

Sebagai anak seminari, karakter saya mungkin tidak memiliki banyak dialog. Saya hadir di beberapa adegan sebagai bagian dari latar yang menggambarkan kehidupan calon imam. Namun, saya belajar bahwa dalam teater, diam pun bisa berbicara. Berdiri di samping altar, menyaksikan pergulatan batin Romo Sandjadja, saya harus bisa menunjukkan keresahan, kebingungan, dan iman yang sedang diujidengan hanya melalui ekspresi wajah dan bahasa tubuh. Tantangannya adalah bagaimana tetap hidup dan fokus meskipun sedang tidak menjadi pusat perhatian. Saya belajar bahwa setiap orang di atas panggung, sekecil apa pun perannya, adalah bagian penting dari cerita. Jika saya lengah atau terlihat kaku, maka suasana adegan bisa rusak. Dari sini, saya belajar tentang konsentrasi dan tanggung jawab, bahkan ketika mata penonton mungkin tidak tertuju langsung kepada saya.

Di luar latihan akting, saya bersama tim dekorasi bekerja keras membangun dunia Romo Sandjadja. Kami menyiapkan altar, mengatur properti, dan memastikan setiap detail mendukung cerita. Pekerjaan ini tidak kenal waktu. Beberapa kali kami bekerja hingga larut malam, ketika sebagian besar orang sudah pulang dan beristirahat. Suasana malam di tempat latihan terasa berbeda. Hening, sunyi, hanya ditemani suara palu, obrolan kecil, dan kadang canda tawa di sela kelelahan. Pernah suatu malam, kami harus memperbaiki properti yang rusak hanya beberapa hari sebelum pagelaran. Badan terasa berat, mata perih mengantuk, tapi tidak ada satu pun dari kami yang mengeluh. Kami tahu ini demi kebaikan bersama.

Salah satu tantangan terbesar saya adalah masalah jarak. Rumah saya berada di Surabaya Barat, sementara lokasi latihan dan pementasan berada di ujung timur kota. Setiap hari, saya harus menempuh perjalanan panjang melintasi hampir seluruh kota Surabaya. Pergi ke tempat latihan saat sore, dan pulang larut malam setelah bekerja sebagai dekor atau setelah latihan usai, menjadi rutinitas yang melelahkan. Duduk di angkutan umum atau mengendarai motor di jalanan yang mulai sepi, kadang saya bertanya pada diri sendiri, “Untuk apa semua ini?” Tubuh ini letih, waktu istirahat berkurang, dan besok harus bangun pagi untuk sekolah lagi. Namun di perjalanan-perjalanan itulah saya justru menemukan waktu untuk merenung. Saya memikirkan adegan yang harus diperbaiki, properti yang masih kurang, atau foto-foto yang harus diedit untuk dokumentasi.

Saya juga teringat pada teman-teman yang masih mungkin lembur di lokasi. Perjalanan panjang ini mengajarkan saya arti pengorbanan. Bahwa untuk sesuatu yang besar dan berarti, kita harus rela menempuh jarak, melelahkan badan, dan mengorbankan waktu istirahat. Di tengah perjalanan itu, saya sering merasakan campuran antara lelah dan bangga. Lelah karena fisik hampir mencapai batasnya, tapi bangga karena tahu bahwa saya sedang berjuang untuk sesuatu yang lebih besar dari diri saya sendiri. Setiap kilometer yang saya tempuh serasa menjadi saksi bisu atas komitmen saya pada drama ini.

Selain akting dan dekor, saya juga terlibat dalam publikasi dan dokumentasi. Tugas ini membuat saya memegang kamera di sela-sela kesibukan. Saya mendokumentasikan proses latihan, momen-momen kebersamaan, hingga detik-detik pementasan berlangsung. Dari sini saya belajar bahwa dokumentasi bukan sekadar memotret. Ada cerita yang harus ditangkap, ada emosi yang harus dibekukan. Saya harus peka terhadap momen: kapan harus memotret, kapan harus diam, dan bagaimana mengambil sudut terbaik. Di sisi publikasi, saya belajar bagaimana menyebarkan informasi agar orang-orang tertarik datang menyaksikan drama kami. Menjalani peran ganda ini memang tidak mudah. Saya harus pintar-pintar membagi waktu dan tenaga. Ada kalanya saya harus segera berpindah peran: dari aktor yang sedang menghayati karakter, lalu berubah menjadi fotografer yang siap mengabadikan adegan, dan setelah itu turun ke belakang panggung untuk mengecek properti.

Dari keseluruhan proses ini, saya belajar bahwa kerja tim adalah tentang kesediaan untuk melakukan lebih dari sekadar tugas yang diberikan. Saya belajar untuk lebih disiplin, lebih teliti, dan lebih peka terhadap kebutuhan orang lain. Saya juga belajar bahwa di balik setiap pementasan yang sukses, ada kerja keras yang tidak terlihat oleh penonton. Ada malam-malam panjang, perjalanan melelahkan, dan tangan-tangan yang sibuk bekerja di balik layar. Semua itu mungkin tidak pernah diketahui penonton, dan itu tidak masalah. Yang penting bagi kami adalah bahwa panggung itu bisa berdiri kokoh dan cerita itu bisa tersampaikan dengan baik.

Meskipun melelahkan, meskipun harus pulang larut malam dan menempuh perjalanan jauh, saya tidak akan menukar pengalaman ini dengan apa pun. Proyek ini telah mengajarkan saya tentang arti komitmen, pengorbanan, dan kebersamaan. “Faith beyond fear” bukan hanya menjadi judul drama, tetapi juga menjadi semangat yang saya bawa selama proses ini: iman bahwa semua kerja keras ini akan membuahkan hasil, melampaui segala rasa takut dan lelah yang saya rasakan. Terima kasih untuk teman-teman, sutradara, dan semua pihak yang telah berjuang bersama. Ini adalah pengalaman yang tidak akan saya lupakan.