Pada UPRAK Umum kali ini, saya mendapatkan peran sebagai anggota perkap dan pemeran penduduk desa (villager). Sebelum adanya pembahasan mengenai perancangan UPRAK Umum dan pembagian peran, saya terlebih dahulu berpikir berlebihan tentang bagaimana pelaksanaan UPRAK Umum kelas saya karena adanya rasa kewalahan setelah melihat dua angkatan sebelum saya menampilkan dramanya yang begitu profesional.

Tokoh yang kelas saya ambil adalah Richardus Kardis Sandjaja, seorang martir pertama dari Indonesia yang mengorbankan nyawanya demi imannya yang kuat pada Kristus. Setelah membaca kisah hidup beliau, hal pertama yang saya rasakan adalah kepedihan batin yang begitu mendalam. Namun, di balik kepedihan batin itu, saya juga terinspirasi karena tekad beliau dalam berpegang teguh pada imannya mengingatkan saya untuk tidak mudah putus asa dalam masa-masa sulit. Salah satu masa-masa sulit yang saya alami adalah persiapan untuk UPRAK Umum itu sendiri.

Awalnya saya dipilih sebagai orang Lighting, namun akhirnya saya dipindah ke pemeran seminari. Tidak berhenti di situ, saya dipindah lagi ke pemeran penduduk desa (villager) hanya karena saya tidak dapat mengikuti dua kali latihan pada bulan Desember. Tetapi hal ini membuat saya bersyukur karena saya mendapat perhatian yang semakin sedikit. Lalu, pada awal Januari saya juga dipilih sebagai anggota perkap yang bertugas menata properti tiap adegan.

Saya memulai melakukan persiapan UPRAK Umum ini pada bulan Desember, lalu kami berhenti sejenak untuk liburan Natal dan Tahun Baru. Bulan Januari dan awal Februari merupakan masa-masa paling padat karena hampir setiap hari saya berlatih sampai jam 7. Pada tanggal 12 Februari kemarin, saya bersyukur karena semua latihan yang telah saya lalui berbuah maksimal sehingga UPRAK Umum kelas saya dapat dinikmati oleh para tamu dan alumni sekolah. Meskipun melelahkan baik secara fisik maupun mental, saya bersyukur dapat melalui semua ini karena saya bisa menjadi pribadi yang lebih tangguh untuk menghadapi berbagai tantangan di dunia kerja.