Proses ujian praktik drama “Father Sandjaja: Faith Beyond Fear”  benar-benar menjadi pengalaman yang sangat berkesan dan mendalam bagi saya. Di atas panggung, saya mendapat peran sebagai anggota Laskar Hizbullah , sebuah kelompok pejuang yang dalam narasi ini digambarkan memiliki kebencian besar terhadap umat Katolik karena dianggap sebagai sekutu Belanda. Mendalami karakter yang keras, penuh amarah, dan manipulatif memberikan perspektif baru bagi saya; saya belajar bagaimana sebuah ideologi bisa memicu konflik hebat, namun di sisi lain, peran antagonis ini justru mempertegas betapa kokohnya iman Romo Sandjaja yang tetap tenang meskipun harus menghadapi penyiksaan dan maut.

Di luar peran sebagai aktor, tanggung jawab saya cukup menguras energi karena harus membagi fokus sebagai MC untuk pementasan kelas lain, serta harus foto dan video behind the scenes selama uprak ini berlangsung. Saya juga menyempatkan diri membantu bagian dekorasi agar suasana panggung, seperti visualisasi seminari yang terbakar atau suasana gereja tahun 1942, bisa lebih menghidupkan latar cerita. Tantangan yang paling terasa adalah perjuangan saat masa latihan; saya harus menempuh perjalanan jauh dari barat ke timur dan sebaliknya setiap hari, selain itu, terkadang orang tua saya melarang saya untuk pergi latihan karena urusan keluarga atau les. Rasa lelah di jalan sering kali menjadi ujian komitmen yang nyata, namun melihat dedikasi teman-teman XII-A2 yang juga totalitas dalam berlatih, rasa kantuk dan letih itu perlahan hilang karena kami memiliki tujuan besar yang sama.

 

Makna terdalam yang saya dapati dari proyek ini adalah tentang pengorbanan dan solidaritas. Saya belajar bahwa keberhasilan sebuah pementasan besar bukan hanya soal siapa yang berdiri di bawah lampu sorot, tapi tentang bagaimana setiap individu di balik layar bisa saling mendukung. Saya melihat sendiri bagaimana teman-teman berjuang menghafal naskah dalam empat bahasa—Mandarin, Inggris, Indonesia, dan Jawa —serta membangun chemistry yang kuat. Sama seperti judulnya, “Faith Beyond Fear”, kami semua belajar untuk mengalahkan rasa takut akan kegagalan dan rasa lelah fisik kami sendiri demi memberikan persembahan terbaik bagi audiens.

 

Menjalani proses ini bersama teman-teman XII-A2 membuat saya sadar bahwa kerja sama tim adalah kunci utama. Meskipun di dalam cerita saya berperan sebagai pihak yang berlawanan dan menyiksa Romo Sandjaja, di dunia nyata kami semua adalah satu tim yang saling support dari nol. Pengalaman bolak-balik dari barat ke timur dan sebaliknya, membantu dekorasi di sela waktu, hingga memastikan setiap momen penting terabadikan dalam dokumentasi adalah bentuk dedikasi kami untuk mengenang kisah martir Romo Sandjaja di   Sinlui 1 Surabaya ini. Perjalanan ini tidak hanya menghasilkan sebuah nilai akademis, tapi juga kenangan tentang perjuangan bersama yang akan selalu saya ingat.