Ujian praktik kelas yang mengangkat kisah Romo Sandjaja memberikan pengalaman yang sangat berarti dan membekas bagi saya. Pada awalnya, saya menganggap kegiatan ini hanya sebagai tugas sekolah dan proyek ujian akhir yang harus diselesaikan bersama teman-teman demi memperoleh nilai yang baik. Namun, setelah saya mendalami alur cerita dan terlibat langsung dalam proses persiapan hingga pementasan, saya mulai menyadari bahwa kisah hidup Romo Sandjaja memiliki makna yang jauh lebih dalam. Setiap adegan yang kami pelajari menggambarkan keteguhan iman, keberanian, serta pengorbanan di tengah situasi penjajahan yang penuh tekanan dan kekerasan. Beliau bukan sekadar tokoh dalam sebuah cerita, melainkan seorang imam yang sungguh-sungguh menghayati dan mengamalkan imannya dalam kehidupan nyata. Pengalaman ini membuat saya memahami bahwa iman bukan hanya untuk dipahami secara teori, tetapi juga harus diwujudkan melalui sikap, keberanian, dan kesetiaan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam pagelaran karya ini, saya berperan sebagai Sie Kostum, Sie Publikasi dan Dokumentasi, serta turut memerankan tentara Jepang. Sebagai Sie Kostum, saya secara langsung terlibat dalam pembuatan properti penting, yaitu topi uskup dan jubah uskup yang digunakan dalam pementasan. Proses pembuatannya membutuhkan ketelitian dan kreativitas karena saya harus menyesuaikan bentuk,

warna, dan detailnya agar menyerupai busana asli seorang uskup. Saya mencari referensi terlebih dahulu agar desainnya tetap sopan, realistis, dan sesuai dengan konteks cerita. Dalam proses tersebut, saya belajar bahwa membuat kostum bukan hanya soal keterampilan tangan, tetapi juga tentang kesabaran dan ketekunan. Ada beberapa kali percobaan yang

kurang rapi sehingga perlu diperbaiki, namun dari situ saya belajar untuk tidak mudah menyerah dan terus memperbaiki hasil pekerjaan saya.Selain itu, saya juga memastikan jubah yang dibuat terlihat layak digunakan di atas panggung dan mendukung penghayatan peran pemain. Saya menyadari bahwa kostum memiliki peran besar dalam membangun suasana dan membantu penonton memahami karakter yang diperankan. Dari pengalaman sebagai Sie Kostum ini, saya belajar untuk lebih bertanggung jawab terhadap tugas yang dipercayakan kepada saya, mengatur waktu dengan baik, serta bekerja sama dengan teman-teman agar semua perlengkapan siap tepat waktu sebelum hari pementasan.

Sebagai Sie Publikasi dan Dokumentasi, saya berperan aktif dalam pembuatan trailer untuk mempromosikan pagelaran karya ini. Saya ikut serta dalam proses pengambilan gambar, menentukan konsep trailer, serta membantu menyusun adegan-adegan yang dapat menarik perhatian penonton tanpa membocorkan keseluruhan cerita. Dalam proses ini, saya belajar bahwa membuat trailer bukan sekadar menggabungkan potongan video, tetapi juga memikirkan alur, suasana, dan pesan yang ingin disampaikan. Kami harus memastikan trailer tersebut mampu membangun rasa penasaran dan antusiasme penonton.

Melalui pengalaman ini, saya semakin memahami pentingnya kreativitas, kerja sama, dan komunikasi yang baik. Saya belajar untuk mendengarkan ide dari teman-teman, berdiskusi dalam menentukan konsep terbaik, serta menerima kritik untuk memperbaiki hasil akhir. Peran dalam publikasi ini juga mengajarkan saya bahwa promosi yang baik sangat berpengaruh terhadap keberhasilan sebuah acara. Semua proses ini menjadi pengalaman berharga yang melatih saya untuk lebih percaya diri, bertanggung jawab, dan mampu bekerja secara kolaboratif dalam satu tim.