Dalam persiapan drama “Father Sandjaja: Faith Beyond Fear”, saya berperan sebagai wakil koordinator kelas. Selama persiapan saya dengan 3 teman saya yang merupakan koordinator dan sutradara menjadi 4 orang yang mengatur keseluruhan persiapan, mulai dari pembagian anggota divisi, actor, jobdesk, hingga pembuatan timeline besar untuk setiap tugas dari divisi yang harus diselesaikan. Saya mengkoordinasikan setiap teman melalui meeting dan juga chat untuk senantiasa melihat progress yang telah diselesaikan setiap divisi. Setelah melakukan koordinasi, kami melakukan pelatihan atau casting aktor untuk mengetahui teman yang bisa menampilkan tokoh utama.
Setelah casting, pada awalnya Rei yang menjadi tokoh utama. Tetapi setelah latihan bersama sie acara, kami menemukan bahwa Rei lebih cocok menjadi tokoh antagonis yang menjadi “lawan” utama Sandjaja. Akhirnya, saya dipercayakan menjadi tokoh utama. Menjadi tokoh utama memanglah sulit karena saya adalah orang yang introvert sehingga saya harus melawan kepribadian saya yang sebenarnya untuk bisa memerankan tokoh utama dengan maksimal. Peran saya dalam koordinasi dan juga aktor utama cukup memberatkan saya karena selain harus menghafalkan skrip, saya juga tetap harus selalu melakukan cek untuk divisi videotron, sound, lighting, dan publikasi. Ini merupakan salah satu tantangan terbesar saya. Saya harus ingat untuk melakukan pengecekan divisi sekaligus menyimpan energi untuk latihan. Setiap kali kondisi kelas sedang tidak kondusif saya harus mengambil tindakan tegas, entah melalui suara yang tegas dan keras ataupun yang lainnya. Tetapi tindakan tersebut menguras energi saya sehingga seringkali saya tidak bisa latihan dengan maksimal dan beberapa kali jatuh sakit.
Dari latihan yang paling awal, saya dan teman-teman berkumpul di rumah Sydney. Pada awalnya, latihan kami belum efektif. Kami para koordinator mencari cara untuk bisa mengkondisikan teman-teman supaya latihan bisa berjalan dengan efektif. Setelah beberapa minggu mendekati hari h. Dengan tekanan yang ada teman-teman bisa berlatih dengan lebih serius. Pada setiap jadwal latihan bersama sie acara kami mencoba memberikan yang terbaik dan mengevaluasi setiap anggota. Evaluasi yang paling sering adalah mengenai blocking, lighting, dan ekspresi.
Selain itu, saya juga harus mengikuti shooting trailer. Shooting trailer ini merupakan salah satu proses yang paling menarik karena saya bisa melihat semua behind the scene dari pembuatan trailer. Saya bisa melihat bagaimana susahnya kameramen, asisten, dan juga orang yang membuat konsep trailer hingga berulang kali direvisi. Prosesnya saat harus menahan pose dan retake berulang-ulang, membuat saya lelah hingga lutut sakit karena berulang kali harus berlutut dalam jangka waktu kira-kira 2 jam.
Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.