Pada proyek ini saya berperan sebagai sutradara, dan jujur itu bukan hal yang mudah. Saya harus memikirkan alur cerita, mengarahkan aktor, serta memastikan setiap divisi bisa berjalan selaras. Ada beberapa bagian yang menurut saya masih kurang maksimal, tetapi sering kali saya sendiri bingung bagaimana cara memperbaikinya. Rasanya seperti ada yang kurang, namun sulit dijelaskan letaknya di mana. Saya juga sadar bahwa kami semua masih dalam tahap belajar. Tidak ada yang benar benar punya pengalaman teater sebelumnya. Para aktor masih mencari cara untuk lebih menghayati peran, tim lighting dan videotron juga masih berproses memahami teknisnya. Menjelang pertunjukan, saya sempat merasa semangat beberapa teman mulai menurun, dan itu cukup membuat saya khawatir. Di satu sisi saya ingin semuanya lebih serius dan all out, tetapi di sisi lain saya juga mengerti bahwa semua orang lelah dan punya kesibukan masing masing.

Sebagai sutradara, saya berusaha menjaga komunikasi dan tidak terlalu mendominasi. Saya mencoba untuk tidak melangkahi koordinator setiap sie, walaupun kadang ada keinginan agar semuanya berjalan cepat sesuai bayangan saya. Dari situ saya belajar bahwa mengarahkan banyak orang tidak bisa dengan memaksa. Harus sabar, harus pelan pelan, dan harus siap menerima bahwa hasilnya mungkin tidak akan sepenuhnya sempurna sesuai keinginan satu orang. Proyek ini mengajarkan saya bahwa kerja tim bukan tentang siapa yang paling benar, tetapi bagaimana semua orang bisa tetap berjalan bersama sampai akhir.

Selain mengarahkan, kami juga membagi jobdesk agar pengerjaan lebih terarah. Saya lebih banyak menghandle bagian publikasi dan dokumentasi, termasuk mengurus videotron dan lighting. Saya juga ikut terlibat dalam perekaman trailer bersama tim publikasi dan dokumentasi, karena bagi saya penting untuk tidak hanya memberi arahan, tetapi juga turun langsung dalam prosesnya. Dengan begitu, konsep yang sudah direncanakan sejak awal tetap terjaga dan tidak keluar dari storyline utama tentang Romo Sandjaja. 

Saya juga terlibat dalam pembuatan konsep visual, termasuk konsep poster secara keseluruhan mulai dari desain, tone warna, hingga pesan yang ingin ditonjolkan. Selain itu, saya membantu mencari background untuk videotron serta menentukan dan menyesuaikan sound yang tepat untuk setiap adegan. Saya mencoba memberikan referensi visual dan ide ide tambahan yang bisa memperkuat suasana cerita. Tidak semua ide bisa digunakan, dan dari situ saya belajar menyesuaikan dengan kemampuan tim dan kondisi yang ada. Saya juga belajar untuk tidak terlalu “tidak enakan”. Ada beberapa momen di mana saya harus menolak ide atau hasil karya teman, walaupun sebenarnya itu bukan hal yang nyaman bagi saya. Namun saya sadar bahwa keputusan itu perlu diambil demi kebaikan bersama. Saya berusaha menyampaikannya dengan cara yang baik agar tidak menyakiti perasaan siapa pun. Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa memimpin bukan hanya soal mengatur, tetapi juga soal menjaga perasaan dan tetap bertanggung jawab pada hasil akhir.