Di dalam uprak ini, kelas 12 A2 mempraktekkan sebuah tokoh katolik yang bernama Romo Richardus Kardis Sandjaja yang dikenal sebagai romo Sandjaja. Uprak tersebut di selenggarakan pada Kamis, 12 Februari 2026 tepatnya di gedung SMAK St Louis 1 Surabaya bagian bangsal lazaris. Romo sandjaja sendiri lahir pada 20 Mei 1914 di Muntilan, Jawa Tengah. Ia menempuh pendidikan di seminari Menengah Mertoyudan. Di dalam karir pelayanannya, dia ditahbiskan menjadi romo pada 1943 oleh oleh Monsinyur Albertus Soegijapranata, S.J dan tantangannya menjadi romo begitu sulit. Pasca proklamasi kemerdekaan, Ia tidak berperan sebagai pemimpin agama saja melainkan sebagai figur moral yang menguatkan semangat kebangsaan umatnya.
Penyebab dia mengalami kematian dikarenakan tepat saat agresi militer belanda ke 2 dimana sebuah kelompok ekstrimis yang bersenjata mencoba untuk membunuh beliau. Walaupun, dia memiliki kesempatan untuk melarikan diri, ia tetap memilih bersama umatnya. Hingga di akhir hayat, beliau dibunuh sebagai martir dan jenazahnya ditemukan pada pagi hari.
Di dalam ujian praktek ini, saya hadir sebagai orang di balik layar dimana saya harus mengurusi banyaknya properti serta menentukan dari mana barang tersebut akan masuk dan keluar dari kiri atau dari kanan. Serta saya membantu para tim dekorasi untuk membuat barang perlengkapan di rumah sydney setiap kali weekend. Walaupun orang – orang menganggap hal itu sebagai kecil, namun perlengkapan merupakan salah satu kunci pemegang kesuksesan dalam drama karena membantu para aktor untuk lebih menghayati perannya dalam pentas.

Walaupun terdapat banyak tantangan dikarenakan terdapat banyaknya revisi adegan dan penempatan, tetapi saya optimis bahwa tim saya mampu mengatasi hal tersebut. Beberapa kendala juga terjadi seperti barang perlengkapan rusak sebelum pentas dan kekurangan orang yang membuat saya kebingungan untuk membantu perlengkapan tersebut. Selain itu terdapat juga, tempat latihan dikhususkan

para perkapĀ di kelas dan waktu yang seringkali jadi bentrokan kepada para perlengkapan itu sendiri. Di dalam ujian ini, saya menjadi nostalgia bagaimana memimpin sebuah organisasi dan melakukan pendekatan terhadap teman – teman agar mampu kerja dengan baik serta yang paling penting menangani emosi. Apapun pada masalahnya, saya tetap bangga terhadap diri sendiri dan juga teman – teman karena telah berjalannya ujian praktek ini dengan baik walaupun terdapat banyak tantangan dan hambatan.
Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.