Dalam kegiatan ujian praktek ini, saya diberi kepercayaan oleh wali kelas saya, Pak Toni untuk berperan sebagai ketua pelaksana dalam kelas saya. Pada dasarnya, job desc saya adalah untuk memastikan semua sie berjalan dengan lancar, mulai dari sutradara, scriptwritter, perlengkapan, kostum, actor, dan lain sebagainya.

Hal yang paling pertama dilakukan oleh saya dan teman-teman saya adalah menentukan tokoh yang akan dipakai. Awalnya, kita tidak punya bayangan untuk menggunakan Romo Sandjaja sebagai tokoh kami, namun kita melihat banyak kekurangan yang terdapat dalam tokoh awal yang kita inginkan. Dengan bantuan masukan beberapa bapak/ibu guru, kita mulai mencari tokoh baru yang memiliki jalan cerita yang menginspirasi dan layak untuk diangkat menjadi sebuah drama. Singkat cerita, Romo Sandjaja kita pilih untuk menjadi tokoh yang akan kita angkat sebagai drama kita.

Setelah melakukan penelitian lebih lanjut mengenai cerita hidupnya, kita mulai berdiskusi membahas bagian-bagian hidupnya yang menjadi “key points” penting dan harus di highlight. Saya membahas bersama wakil ketua pelaksana (Jeff), Scriptwritter (Evan, Willi, Ivana, dan Renata), serta sutradara (Valerie dan Daven). Awalnya banyak bentrokan ide dan pikiran antara kita semua, masing-masing menyampaikan visi akan drama ini. Banyak yang memiliki pandangan yang berbeda beda akan peristiwa-peristiwa penting dalam hidup Romo Sandjaja. Sumber yang terbatas akan cerita Romo Sandjaja juga menjadi halangan bagi kami, banyak dari kita yang mendapat informasi yang kurang tepat. Setelah berembuk dalam beberapa pertemuan, kita akhirnya sepakat akan satu jalan cerita yang sama. Kita mulai membuat dan menyusun script bersama sama. Revisi, konsultasi, dan keinginan untuk script kita menjadi sempurna telah menemani hari hari kita.

Beberapa waktu setelah pengumpulan, kita mendapat berita bahwa script kita telah dinobatkan sebagai script terbaik di kalangan kelas XII. Kita bersorak bergembira, bersyukur atas keberhasilan pertama kita. Namun, di balik keberhasilan itu kita menghadapi sebuah masalah. Script kelas kita bocor ke kelas lain, menimbulkan sebuah konflik yang cukup besar, tak berlama-lama kita langsung bersama sama memecahkan konflik yang ada dengan cara kekeluargaan. Script yang bagus juga memberikan kita tekanan yang lebih besar, tekanan untuk melakukan eksekusi juga dengan baik dan sempurna agar script kita tidak tercoreng. Pada awal tahap eksekusi, kita mencoba memetakan beberapa orang-orang yang akan kita gunakan sebagai pemeran utama dan tokoh-tokoh penting. Kita menobatkan Rei sebagai Romo Sandjaja. Setelah gladi kotor pertama kita mendapat banyak masukan dari Mam Vian, Pak Toni, Pak Yogi dan Pak Pelog. Mereka mengatakan bahwa gladi kotor pertama kita tidak berjalan dengan baik.

Saya dan Jeff langsung mengambil aksi setelah gladi kotor itu, Rei kami nilai kurang bisa menjadi tokoh protagonis, jiwanya adalah untuk memainkan sebuah tokoh yang tegas, kharismatik, dan jahat. Rei cocok memainkan peran Hizbullah. Saya dan Jeff mengambil langkah yang berani, kita mengubah peran Rei menjadi Hizbullah, saya menyuruh Jeff untuk menjadi Romo Sanajaja, dan Jeff juga menyuruh saya untuk menjadi narrator menggantikan Delav. Perubahan yang dibuat cukup tegas dan tajam, namun semua untuk kebaikan kelas kita. Kita semua mulai menyesuaikan kembali dengan peran kita masing masing. Dari sini, latihan dan gladi kotor berikut-berikutnya menjadi lebih rapi dan lebih baik.

Meskipun banyak pertidaksetujuan, naik turun keadaan, uprak kelas XIIA-2 berjalan dengan lancar, kami berhasil menyelesaikan semuanya dengan baik. Uprak ini adalah peristiwa yang akan saya kenang paling banyak di SMA. Uprak tidak hanya mengajarkan saya untuk bekerja dalam tim, namun juga untuk mencintai seluruh kekurangan dan kelebihan teman-teman saya