Dalam kegiatan pagelaran drama ujian praktik kali ini, saya ditugaskan dalam beberapa peran: sebagai scriptwriter, sie dekor, actor, dan MC. Selain 4 tugas itu, saya juga membantu sie MUA. Tentunya perjalanan mengerjakan ujian praktik ini penuh kendala, namun karena dikerjakan bersama-sama teman-teman sekelas, jadi terasa lebih ringan.

Pertama, sebagai scriptwriter atau penulis naskah, saya bersama koordinator, Ivana, dan anggota scriptwriter lainnya, William dan Evan, mengerjakan naskah drama uprak pada beberapa bulan pertama, khususnya bulan September hingga November. Selain para scriptwriter, kedua sutradara kami (Daven dan Valerie), koordinator kelas (Aldrich), ketua kelas sekaligus main character (Jeff), dan para sekretaris uprak kami (Cliffen dan Ian) juga banyak berkontribusi dalam proses penulisan naskah. Berjumlah 10 orang, kami sering melakukan rapat baik secara offline di sekolah maupun online melalui aplikasi Discord untuk membahas ide-ide dan menuliskannya. Tidak jarang kami mengalami writer’s block dan kehabisan ide saat menulis, namun kami tetap konsisten menulis dan menulis hingga akhirnya naskah drama “Father Sandjaja: Faith Beyond Fear” telah terselesaikan.

Kemudian, sebagai sie dekor, saya berkontribusi menggambar visualisasi stage untuk beberapa scenes (di act 7, 8) serta membuat beberapa properti seperti bayonet untuk tentara jepang, tombak dan obor untuk laskar hizbullah, rak buku, barrell, tumpukan kayu, dan sebagainya. Saya mengusahakan untuk selalu hadir dalam setiap pertemuan dekor di rumah Sydney walaupun sempat izin 1-2 kali karena adanya acara penting. Tanpa koordinasi dari Sansan dan kerjasama dari seluruh anggota kelas, saya merasa properti-properti yang digunakan tidak akan selesai sesuai harapan dan tepat waktu.

Ketiga, sebagai actor, saya berperan dalam act 1, 3, dan 8, dimana saya menjadi warga desa Muntilan, tempat Romo Sandjaja menjalankan misi. Sebagai actor, saya banyak belajar untuk berekspresi dan mendalami karakter walaupun peran yang saya bawakan bukan tokoh utama. Saya menyadari bahwa setiap peran, sekecil apa pun, tetap penting untuk membangun suasana cerita agar terasa hidup dan menyentuh penonton. Latihan rutin bersama para pemain lain juga melatih kepercayaan diri, kekompakan, serta kemampuan menghafal dialog dan blocking panggung. Tantangan yang saya rasakan adalah membagi waktu antara latihan akting, tugas dekor, dan tanggung jawab lainnya, namun melalui proses ini saya belajar untuk lebih disiplin dan bertanggung jawab terhadap peran yang diberikan.

Selain itu, saya juga bertugas sebagai MC dalam pagelaran drama. Peran ini cukup menantang karena saya harus mampu membawakan acara dengan percaya diri di depan banyak penonton, menjaga alur acara tetap rapi, serta memastikan suasana tetap kondusif. Saya berlatih intonasi, artikulasi, dan kelancaran berbicara agar penyampaian informasi dapat diterima dengan jelas oleh penonton. Pengalaman menjadi MC ini melatih keberanian saya dalam public speaking dan kemampuan mengatur jalannya acara secara profesional.

Di luar empat tugas utama tersebut, saya turut membantu sie MUA dalam menyiapkan riasan para pemain sebelum tampil. Meskipun hanya membantu makeup untuk Jeff saat dia berperan menjadi mayat, saya belajar bahwa setiap bagian dalam sebuah pagelaran memiliki peran penting yang saling mendukung satu sama lain. Tanpa kerja sama dari semua sie, mulai dari naskah, dekor, kostum, MUA, hingga pemain dan panitia lainnya, pagelaran ini tidak akan berjalan dengan baik.

Secara keseluruhan, perjalanan mempersiapkan ujian praktik drama ini mengajarkan saya banyak hal, mulai dari kerja sama tim, komunikasi, manajemen waktu, hingga tanggung jawab terhadap tugas yang diberikan. Walaupun banyak kendala yang dihadapi, seperti kelelahan, perbedaan pendapat, dan keterbatasan waktu, semua dapat diatasi dengan saling mendukung dan berkoordinasi. Saya sungguh bersyukur dapat menjadi bagian dari proses ini karena selain menambah pengalaman, kegiatan ini juga mempererat kebersamaan dengan teman-teman sekelas. Pengalaman ini menjadi kenangan berharga sekaligus pelajaran penting yang dapat saya terapkan di masa depan. Saya berharap, kedepannya kami dapat menjadi kelas yang lebih solid dan akrab hingga dewasa nanti, sehingga suatu saat nanti kami dapat menoleh ke belakang dan mengingat kembali kenangan uprak yang indah ini.

The fire in our hearts can never be put out,

“Father Sandjaja: Faith Beyond Fear”, officially signing out. ♡