Bagian hidup Romo Sandjaja yang paling membekas bagi saya adalah saat-saat terakhir hidupnya. Waktu pertama kali mendalami kisahnya untuk proyek ini, saya benar-benar tersentuh. Saya membayangkan bagaimana beliau tetap teguh dalam iman meskipun harus mengalami penyiksaan dan akhirnya dibunuh oleh tentara Jepang. Dalam situasi yang penuh kekerasan dan ketidakadilan, sebenarnya ia bisa saja memilih jalan aman untuk menyelamatkan diri. Namun ia tetap setia pada panggilannya sebagai imam dan tidak meninggalkan umatnya. Dari situ saya merasa bahwa iman yang sejati memang bukan hanya tentang kata-kata, tetapi tentang keberanian untuk tetap bertahan sampai akhir, bahkan ketika harus menghadapi penderitaan.
Saat menyusun naskah sebagai scriptwriter, saya semakin memahami nilai perjuangan Romo Sandjaja. Saya harus benar-benar memikirkan alur cerita dan dialog supaya kisahnya bisa disampaikan dengan jelas dan menyentuh. Saya merasa punya tanggung jawab besar, karena melalui naskah itulah pesan tentang iman, kesetiaan, dan pengorbanan bisa sampai kepada penonton. Dalam prosesnya, saya belajar untuk lebih teliti, sabar, dan terbuka terhadap masukan dari teman-teman.
Selain menulis naskah, saya juga membantu sie dekor. Awalnya saya mengira tugas ini sederhana, tetapi ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Kami harus menata panggung agar suasananya benar-benar menggambarkan masa penjajahan Jepang. Saya ikut membantu menyiapkan properti, mengatur posisi meja dan kursi, serta memastikan dekor tidak mengganggu pergerakan pemain. Dari situ saya belajar bahwa hal-hal kecil di balik layar ternyata sangat menentukan keberhasilan sebuah pementasan. Kerja sama dan komunikasi antaranggota tim menjadi kunci utama.
Pengalaman yang paling berbeda bagi saya adalah saat memerankan tentara Jepang. Meskipun hanya dalam pementasan, saya mencoba membayangkan situasi pada masa itu dan bagaimana tekanan serta ketidakadilan dirasakan oleh masyarakat. Memerankan tokoh yang “berlawanan” dengan Romo Sandjaja justru membuat saya semakin menghargai keberanian dan keteguhan beliau. Saya merasakan bahwa tanpa tokoh antagonis, pengorbanan Romo Sandjaja mungkin tidak akan terasa sekuat itu.
Dari seluruh pengalaman ini, saya tidak hanya belajar tentang sejarah dan keutamaan Vincentian seperti kepedulian, kesetiaan, dan pengorbanan, tetapi juga tentang arti tanggung jawab dan kerja sama dalam tim. Proyek ini benar-benar menjadi pengalaman yang berharga bagi saya dan meneguhkan saya untuk meneladani keberanian serta kepedulian terhadap sesama dalam kehidupan sehari-hari.
Setelah semua latihan yang membuatku pulang malam sekali, pada tanggal 12 Januari kita menampilkan yang terbaik.
Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.