Pada pagelaran karya kelas XII ini, saya berperan sebagai pembicara 4 bahasa, aktor villager, serta koordinator sie publikasi dan dokumentasi. Persiapan uprak umum ini telah dimulai sejak tahun lalu, dimulai dari pemilihan karakter Romo Sandjaja, proses penulisan dan pendalaman naskah, pembuatan properti dekorasi, hingga latihan akting. Bulan Desember yang biasanya dihabiskan untuk berlibur dan beristirahat, kali ini diisi dengan berbagai jadwal dekorasi. Jadwal sepulang sekolah yang sebelumnya dipenuhi dengan les dan kegiatan pribadi, kini menjadi jadwal latihan drama.

Pada awalnya, saya tidak melihat peran pembicara 4 bahasa sebagai peran yang penting. Tugas ini hanya terlihat seperti menjelaskan secara singkat cerita drama yang akan dipentaskan kepada penonton. Namun, setelah menjalani begitu banyak latihan dan memahami keseluruhan alur cerita, saya mulai menyadari bahwa peran ini merupakan pengantar utama atau sinopsis dari keseluruhan cerita. Pembicara 4 bahasa memiliki peran penting dalam memberikan latar belakang cerita serta membantu penonton memahami konteks drama dengan lebih mendalam. Kesadaran ini membuat saya lebih serius dalam berlatih, baik dari segi pelafalan, intonasi, maupun kelancaran berbicara, hingga akhirnya saya dapat tampil dengan lebih percaya diri dan fasih pada hari pertunjukan.

Selain sebagai pembicara 4 bahasa, saya juga berperan sebagai seorang villager. Meskipun bukan peran utama, peran ini tetap memiliki pengaruh dalam membangun suasana dan jalannya cerita. Melalui peran ini, saya mendapatkan pengalaman baru dalam berakting, khususnya dalam memerankan watak marah yang berbeda dari sifat saya sehari-hari. Selain itu, saya juga merasakan ketegangan saat harus bernyanyi di depan banyak orang, sesuatu yang sebelumnya jarang saya lakukan. Pada awalnya, saya mengalami kesulitan dalam berakting sehingga gerakan dan ekspresi terlihat canggung, serta merasa kurang percaya diri saat bernyanyi karena minimnya pengalaman. Namun, dengan arahan dari sutradara, dukungan dari teman-teman, serta latihan yang dilakukan secara berulang, perlahan-lahan saya mulai merasa lebih nyaman dan mampu menjalankan peran tersebut dengan lebih baik.

Di balik layar, saya mendapat kesempatan untuk menjadi koordinator sie publikasi dan dokumentasi. Dalam peran ini, saya bersama tim pubdok menghadapi berbagai tantangan, mulai dari mencari dan mengembangkan ide, menentukan konsep trailer, mendesain konten Instagram, membuat poster, hingga mendokumentasikan setiap proses kegiatan. Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa komunikasi yang baik, kerja sama tim yang solid, serta manajemen waktu yang efektif sangat diperlukan untuk menghasilkan karya yang maksimal.

Seluruh rangkaian proses uprak umum ini memberikan banyak pelajaran dan pengalaman berharga bagi saya. Tidak hanya melatih kemampuan akting dan berbicara di depan umum, tetapi juga mengajarkan arti tanggung jawab, kerja keras, kebersamaan, dan kekompakkan kelas. Walaupun melelahkan, uprak ini akan menjadi kenangan yang tak terlupakan dan akan selalu saya ingat sebagai bagian penting dan seru dari perjalanan saya di Sinlui.