Pada pagelaran karya dengan judul Faith Beyond Fear ini, saya berperan sebagai villager dan anggota sie publikasi dan dokumentasi. Awalnya, saya pikir kedua peran ini tidak akan bertabrakan dengan jadwal les saya sehari-hari, namun ternyata sangat bertabrakan, saya jadi sering tidak ikut les demi ikut latihan. Kedua peran ini tidak bisa saya sepelekan hanya karena tidak memiliki banyak dialog dan tugas. Nyatanya, act  8 (villager) merupakan act yang lumayan sering latihan (choreo dan nyanyi) dan sie pubdok juga harus membuat desain dan memikirkan konten selanjutnya.

 

Sebagai villager, saya memang tidak memiliki banyak bagian berbicara, tetapi justru di situlah tantangannya. Adegan pencarian jenazah Romo Sandjaja merupakan salah satu momen penting yang bertujuan membangun suasana tegang dan duka dalam cerita. Kami sebagai warga harus bisa menampilkan ekspresi bingung, cemas, dan sedih secara meyakinkan agar emosi tersebut sampai kepada penonton. Tidak mudah untuk menyamakan gerakan, tempo, dan ekspresi dengan banyak orang di panggung, selain itu saya takut tidak berada pada center point saat penampilan. Selama latihan, sering kali kami tidak dapat memberikan ekspresi yang terlihat hidup (cemas, sedih, bingung), sehingga latihannya tidak selesai-selesai. Dari situ saya belajar bahwa detail kecil seperti ekspresi wajah dan kekompakan posisi ternyata sangat memengaruhi kuat atau tidaknya sebuah adegan.

 

Sebagai pubdok, saya awalnya berpikir akan mudah, karena saat menjadi osis saya juga memegang akun media sosialnya. Ternyata saya salah besar, saya harus belajar dari awal untuk membuat desain. Selain itu, sulitnya adalah memikirkan desain agar tidak mainstream. Sebagai anggota publikasi dan dokumentasi, tanggung jawab saya justru banyak terjadi di balik layar. Saya tidak hanya mendokumentasikan saat hari-H, tetapi juga proses latihan, pengambilan trailer, hingga mempersiapkan konten yang akan dipublikasikan. Saya ikut memastikan momen-momen penting tidak terlewat. Untuk membua desain, saya belajar untuk menggunakan adobe photoshop dan adobe illustration. Saya sempat merasa brain out karena kesulitan untuk menggunakan adobe, saya merasa tidak umum menggunakan adobe. Saya selalu belajar dari teman saya maupun internet. Selain itu, saat itu saya mendapatkan banyak sekali revisi, dan saya harus merevisi satu-satu, ditambah saya masih belum terbiasa menggunakan adobe. Tugas lainnya adalah saat membuat trailer dan poster. Untuk membuat trailer, kami merekam di rumah salah satu teman kami dan di kapel gereja Santo Yakobus. Kami melaksanakan perekaman videoboard untuk trailer pada 8 Desember 2025, awalnya kami mau merekam di kapel sekolah, namun pada saat itu terjadi tragedi kepada guru di sekolah kami, sehingga kapel digunakan untuk berdoa. Disana kami merekam trailer dari jam 8 pagi hingga jam 1 siang dan dilanjutkan ke rumah teman kami Sydney. Shooting trailer dimulai tanggal 19 Desember di rumah koor pubdok, dari pagi hingga jam 10 malam. Tentunya sangat melelahkan, ditambah lagi rumah saya sangat jauh sekitar 40 menit naik motor. Namun, tidak sampai disitu, kami melakukan shooting dan foto trailer di rumah teman kami lagi. Saat itu juga selesainya malam sekitar jam 8. Dan terakhir rekaman trailer pada Februari awal, karena ada beberapa perubahan. Selama proses ini, tentunya ada masalah yang terjadi, salah satunya adalah miscommunication, sehingga saya sempat marah terhadap rekan kerja saya. Dari sini saya belajar, bahwa dalam kerja kelompok, komunikasi sangat diperlukan walaupun sesibuk apapun kita.

Selain kedua peran saya diatas, saya juga membantu dekor sedikit pada awal-awal persiapan uprak. Saya membantu membuat bush dan tombak.

Saat hari-H saya merasa nervous, saya takut bahwa saya akan membuat kesalahan, karena saya orangnya demam panggung. Namun, untungnya semuanya berjalan lancer, karena kami saling menyemangati dan menguatkan. Saya sangat puas, karena hasil latihan kami tidak sia-sia dan terbayarkan. Kami menjadi semakin dekat selama uprak ini.

 

 

Berikut adalah beberapa dokumentasi lainnya.