Pada fase awal persiapan uprak, saya mendapat kepercayaan untuk memerankan tokoh Mgr. Soegijapranata dalam adegan tahbisan Romo Sandjaja. Meskipun perannya relatif singkat, tantangannya cukup besar karena seluruh dialog saya harus disampaikan dalam bahasa Mandarin dengan Pinyin. Foto ini diambil saat kami latihan di rumah salah satu teman.
Yang bikin cukup menantang adalah bagian script saya berisi 3 paragraf full Mandarin. Awalnya, saya kesulitan bahkan hanya untuk membaca sambil melihat script, apalagi menghafalkannya. Pengucapan Pinyin-nya harus tepat karena ini bagian dari upacara sakral tahbisan. Tapi untungnya, dengan latihan rutin bareng teman-teman dan beberapa kali dikoreksi sama yang lebih paham bahasa Mandarin, akhirnya saya berhasil menghafalkan semua dialog dengan baik. Yang penting bukan cuma hafal, tapi juga harus bisa menyampaikan dengan penuh penghayatan karena momen tahbisan ini kan momen penting dalam perjalanan hidup Romo Sandjaja.
Sebagai anggota sie dekor dan sie perkap, tanggung jawab saya cukup banyak. Salah satunya adalah membuat berbagai properti yang dibutuhkan untuk drama. Foto ini menunjukkan saat saya sedang melakukan sketsa desain senjata senapan untuk para pemeran yang berperan sebagai tentara Jepang dan Hizbullah. Proses pembuatan properti ini tidak semudah yang dibayangkan. Pertama, saya harus riset dulu bentuk senapan yang dipakai pada era 1940-an biar sesuai dengan konteks cerita. Terus bikin sketsa desain yang mempertimbangkan bahan apa yang bisa kita pakai dengan budget terbatas. Senapan harus terlihat realistis dari kejauhan tapi tetap aman dan ringan untuk dibawa pemain. Selain senapan, saya juga berkontribusi membuat berbagai properti lain seperti semak-semak untuk setting outdoor, baju uskup lengkap dengan topi uskup, stand untuk berbagai keperluan panggung, dan properti-properti pendukung lainnya. Semua dibuat dengan mempertimbangkan aspek visual dari jarak pandang penonton, durabilitas saat dipindah-pindah antar scene, dan tentu saja efisiensi budget. Pengalaman ini mengajarkan saya pentingnya detail dalam production design. Setiap properti punya peran penting dalam mendukung cerita, meskipun mungkin cuma muncul sebentar di atas panggung.

Salah satu tanggung jawab saya dalam sie dekor adalah memastikan semua kostum dan properti pas dan nyaman dipakai. Foto ini menangkap momen saat saya melakukan pengukuran topi uskup yang akan saya pakai sendiri saat tampil sebagai Mgr. Soegijapranata. Topi uskup ini sebenarnya sudah dibuat, tapi ternyata masih perlu beberapa penyesuaian. Saya melakukan pengukuran ulang untuk memastikan ukurannya pas dengan kepala saya dan tidak akan goyang atau jatuh saat perform. Selain itu, saya juga melakukan perubahan minor pada bentuk topi agar lebih mirip dengan topi uskup yang sebenarnya, terutama bagian miter (ujung yang runcing) harus proporsional dan simetris. Detail-detail kecil seperti ini penting banget karena kostum yang pas akan membuat aktor lebih percaya diri dan bisa fokus pada akting tanpa khawatir kostumnya bermasalah. Plus, dari segi visual, topi yang bentuknya bagus akan langsung kelihatan lebih profesional.

Foto ini diambil saat kami melakukan syuting trailer di sebuah taman umum untuk di-upload ke media sosial Instagram.
Proses syuting trailer ini lumayan melelahkan tapi juga seru. Kami melakukan puluhan take untuk mendapatkan angle, lighting, dan akting yang pas. Harus diakui, shooting outdoor itu challenging, kita harus deal dengan cuaca, suara ambient yang mengganggu, dan orang-orang yang lewat. Tapi justru di situlah kreativitas kita diuji. Sebagai anggota bendahara, saya juga terlibat dalam mengalokasikan dana untuk keperluan promosi ini, seperti menyewa peralatan tambahan kalau diperlukan. Kami berusaha memaksimalkan hasil dengan budget yang terbatas, dan trailer yang dihasilkan cukup menarik perhatian.
Ini adalah salah satu momen yang paling menantang sekaligus memuaskan dalam seluruh proses persiapan uprak. Foto ini menunjukkan saat saya bersama teman-teman sie dekor/kostum berkontribusi menjahit baju uskup dan topi uskup secara DIY (Do It Yourself).
Proses pembuatan kostum uskup ini membutuhkan waktu yang sangat banyak, tenaga ekstra, dan ketelitian yang kuat. Kami harus memilih kain yang tepat, yang terlihat bagus tapi juga dalam budget kami. Lalu ada proses pemotongan pola, penjahitan, pemasangan aksesoris seperti salib. Yang bikin bangga, pada hari H, kostum uskup DIY ini terlihat sangat keren di atas panggung!. Semua kerja keras, tangan yang tertusuk jarum berkali-kali, dan begadang hingga larut malam akhirnya terbayar lunas. Saya merasa lega bahwa semua effort kami ada hasilnya dan nggak mengecewakan penonton. Sebagai bendahara, saya juga mencatat setiap pengeluaran untuk bahan-bahan kostum ini, dari kain, benang, aksesori, sampai ongkos transport kalau harus beli bahan ke toko yang agak jauh. Transparansi keuangan dalam project ini sangat penting buat saya jaga.

Dalam uprak kelas XII A2 ini, selain menjadi pemeran. saya tergabung di tiga sie: sie dekor, sie bendahara, dan berkontribusi di sie perkap. Foto ini diambil saat kami melakukan photoshoot untuk setiap sie sebagai dokumentasi dan juga buat konten promosi. Kami menggunakan berbagai props yang sudah dibuat untuk membantu mengisi bagian kosong dalam frame dan untuk estetika sesuai dengan identitas masing-masing sie. Photoshoot ini juga menjadi momen buat kami saling menghargai kontribusi masing-masing. Kadang kita fokus sama tugas sie sendiri aja, tapi lewat sesi foto ini, kami bisa lihat dan appreciate kerja keras sie lain juga.

Ini adalah momen gladi bersih kami, latihan final sebelum hari pertunjukan. Tujuannya adalah untuk memantapkan perkap, menyempurnakan perwatakan setiap karakter, dan memastikan semua technical aspect berjalan lancar. Gladi bersih ini dilakukan dengan sangat intensif. Kami run through seluruh drama dari awal sampai akhir tanpa henti, seolah-olah sudah perform beneran. Setiap perpindahan scene, setiap lighting cue, setiap sound effect, semua harus timing-nya pas. Sebagai pemeran sekaligus anggota sie dekor, saya harus multitasking: fokus pada peran saya sebagai Mgr. Soegijapranata sambil juga memantau apakah semua properti sudah di posisi yang benar dan siap digunakan. Gladi bersih juga jadi waktu untuk last-minute adjustment. Ada beberapa blocking yang diubah, ada properti yang ternyata kurang stabil dan harus diperbaiki segera, ada kostum yang perlu sedikit modifikasi. Semua masukan dicatat dan langsung dieksekusi.

Ini adalah dokumentasi kami pada hari terakhir latihan di Vision Studio, tempat yang kami gunakan untuk rehearsal intensif menjelang hari H. Yang spesial dari latihan terakhir ini adalah kedatangan wali kelas kami untuk memberikan evaluasi final dan penyemangat.
Wali kelas melakukan evaluasi intensif terhadap setiap adegan. Beliau memberikan catatan detail mulai dari cara kami mengucapkan dialog (intonasi, penghayatan), blocking dan pergerakan di atas panggung, sampai technical aspect seperti timing perpindahan scene. Ada beberapa adegan yang diminta untuk diulang berkali-kali sampai terlihat lebih rapi dan emosional.

Pada saat ini, kami sedang berdoa demi kelancaran setelah briefing dan diberikan semangat dari wali kelas
12 Februari 2025 – “The Story of Father Sanjaya: Faith Beyond Fear”
Akhirnya tibalah hari yang sudah kami tunggu-tunggu dan persiapkan dengan susah payah selama berbulan-bulan. Tanggal 12 Februari 2025, kami menampilkan yang terbaik demi kelas untuk uprak umum kelas XII A2 dengan judul “The Story of Father Sanjaya: Faith Beyond Fear”. Foto ini menangkap momen curtain call, saat seluruh cast dan crew naik ke panggung untuk memberikan penghormatan terakhir kepada penonton. Perasaan saat itu campur aduk: lega karena akhirnya selesai, bahagia karena penampilan berjalan lancar, bangga dengan hasil kerja keras tim, dan sedikit sedih karena journey panjang ini berakhir.
Sebagai bendahara, saya bersyukur bahwa seluruh aspek keuangan project ini berjalan transparan dan akuntabel. Budget yang kami kelola dengan ketat ternyata cukup untuk semua kebutuhan produksi, dari sewa venue, pembelian bahan kostum dan properti, biaya promosi.
Sebagai anggota sie dekor dan perkap, melihat semua properti yang kami buat dengan tangan sendiri, semua set design yang kami rancang, dan semua kostum yang kami jahit tampil sempurna di atas panggung memberikan kepuasan tersendiri. Setiap detail yang kami perjuangkan, dari bentuk topi uskup yang harus simetris, senapan yang harus terlihat realistis, sampai perpindahan scene yang harus smooth, semua terbayar di momen ini.
Dan sebagai pemeran Mgr. Soegijapranata, saya bangga bisa membawakan peran itu dengan penuh penghayatan. Dialog Mandarin yang sempat jadi mimpi buruk di awal akhirnya bisa saya sampaikan dengan lancar dan bermakna.
Drama ini bukan hanya tentang menceritakan kisah Romo Sandjaja. Ini adalah tentang kerja sama, dedikasi, pengorbanan, dan iman, baik iman dalam konteks spiritual maupun iman kepada kemampuan tim kami untuk menciptakan sesuatu yang bermakna.
Terima kasih kepada seluruh anggota XII A2 yang sudah berjuang bersama. Terima kasih kepada para guru yang sudah membimbing. Dan terima kasih kepada penonton yang sudah memberikan apresiasi.
Faith beyond fear, bukan hanya tagline drama kami, tapi juga semangat yang membawa kami melewati seluruh proses ini.
Dokumentasi disusun oleh:
Clasius Kent Tantowijaya
XII-A2 / 09
SMA Katolik St. Louis 1 Surabaya

Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.