Dalam proyek pementasan tentang Romo Sandjaja ini, saya dipercaya untuk menjalankan tiga peran sekaligus: sebagai makeup artist, aktor, dan koordinator kostum. Tanggung jawab tersebut menjadi pengalaman yang sangat menantang sekaligus berharga bagi saya. Saya tidak hanya dituntut untuk tampil di atas panggung sebagai tentara Jepang, tetapi juga memastikan seluruh aspek visual, mulai dari riasan hingga kostum, mampu mendukung kekuatan cerita secara menyeluruh.

Sebagai makeup artist dan koordinator kostum, saya bertanggung jawab mengatur konsep tampilan setiap karakter agar sesuai dengan latar waktu dan suasana cerita. Tantangan terbesar bukan hanya pada teknis pengerjaan, tetapi pada bagaimana menyatukan visi dengan kemampuan tim yang masih dalam tahap belajar. Kami semua belum memiliki pengalaman teater sebelumnya, sehingga setiap proses. Dari menentukan detail riasan, menyesuaikan ukuran kostum, hingga mengatur pergantian pakaian di belakang panggung yang membutuhkan diskusi, percobaan, dan kesabaran. Ada kalanya saya merasa hasilnya belum maksimal, seolah masih ada yang kurang, tetapi sulit dijelaskan secara spesifik. Dari situ saya belajar untuk lebih peka terhadap detail sekaligus realistis terhadap keterbatasan.

Di sisi lain, sebagai aktor yang memerankan tentara Jepang, saya berusaha mendalami karakter dengan sungguh-sungguh. Saya mencoba memahami gestur, ekspresi, dan sikap yang mencerminkan ketegasan serta tekanan situasi pada masa itu, tanpa berlebihan namun tetap meyakinkan. Peran tersebut menuntut saya untuk keluar dari zona nyaman, karena saya harus mampu menampilkan emosi dan karakter yang berbeda dari diri saya sehari-hari. Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa akting bukan sekadar menghafal dialog, tetapi tentang menghadirkan perasaan dan makna di balik setiap adegan.

Menjelang hari pertunjukan, saya menyadari semangat beberapa teman mulai menurun karena kelelahan dan padatnya aktivitas masing-masing. Situasi tersebut sempat membuat saya khawatir. Namun sebagai koordinator, saya berusaha menjaga komunikasi tetap terbuka dan suasana kerja tetap positif. Saya belajar bahwa koordinasi tidak bisa dilakukan dengan tekanan atau tuntutan berlebihan. Sebaliknya, dibutuhkan empati, kesabaran, dan kemauan untuk saling memahami. Dalam beberapa kesempatan, saya juga harus menyampaikan koreksi atau menolak ide yang kurang sesuai dengan konsep. Hal itu bukan keputusan yang mudah, tetapi saya berusaha menyampaikannya dengan cara yang baik agar tetap menjaga perasaan dan semangat tim.

 

Melalui proyek ini, saya memahami bahwa peran di balik layar memiliki pengaruh besar terhadap keberhasilan sebuah pertunjukan. Menjadi makeup artist, aktor, dan koordinator kostum sekaligus mengajarkan saya tentang tanggung jawab, manajemen waktu, serta pentingnya kerja sama yang sehat. Saya belajar bahwa kepemimpinan tidak selalu berarti berada di depan, tetapi juga tentang kesediaan untuk bekerja bersama, mendengarkan, dan terus memperbaiki diri.

Pada akhirnya, pengalaman ini tidak hanya membentuk kemampuan teknis saya dalam bidang seni pertunjukan, tetapi juga membentuk karakter saya sebagai individu yang lebih sabar, terbuka, dan bertanggung jawab. Walaupun hasilnya mungkin belum sempurna, saya bangga karena kami mampu menyelesaikan proses ini bersama. Bagi saya, itulah makna sebenarnya dari sebuah kerja tim.