Pada proyek ini, saya berperan sebagai aktor warga desa atau Villager, koordinator dekor, dan sekaligus pembicara empat bahasa, yaitu bahasa Mandarin. Awalnya saya tidak menyangka akan memegang peran sebanyak itu, dan saya juga sering merasa sangat terbebani oleh peran-peran saya. Sebagai aktor dan pembicara empat bahasa, saya harus tampil di panggung dan menjiwai karakter desa serta menghafal dan membawa bahasa Mandarin yang cukup menantang. Selain itu, saya juga bertanggung jawab atas dekor dan semua anggotanya, yang cukup melelahkan.

Sebagai aktor, saya berusaha untuk berperan yang terasa hidup serta menari dengan lancar. Walaupun bukan tokoh utama, saya tetap sadar bahwa kehadiran tokoh-tokoh kecil seperti saya sangat memengaruhi suasana cerita dan panggung. Selama proyek ini, saya telah belajar bagaimana caranya mengolah ekspresi dan gerak tubuh agar tetap natural dan tidak terlihat kaku dan aneh. Menurut saya, tantangannya adalah untuk menjaga konsistensi, terutama ketika juga harus menjaga fokus terhadap tugas lain di balik panggung.

Sebagai koordinator dekor, kendala terbesar yang saya hadapi adalah properti yang sering rusak. Karena digunakan berkali-kali ketika latihan, beberapa properti menjadi patah dan rapuh. Terkadang, properti yang baru saja selesai dibuat justru rusak pada latihan esok hari, sehingga saya dan tim dekor harus membetulkannya dan bahkan membuatnya ulang. Awalnya hal ini terasa melelahkan dan menguras semangat, namun lama-lama saya dapat belajar tentang bahan-bahan yang cocok untuk beberapa variasi properti, dan juga mengajarkan saya ketelitian serta kesabaran.

 

Peran sebagai pembicara empat bahasa juga menjadi tantangan tersendiri. Saya harus memastikan pelafalan dan intonasi tetap jelas dan tidak terdengar kaku. Hal ini sangat sulit dikarenakan bahasa yang saya bawa, yaitu bahasa Mandarin, yang kata-katanya sangat kompleks dan asing dibandingkan dengan bahasa Indonesia. Saya berlatih berulang-ulang agar penyampaiannya lancar dan tidak merusak suasana sebagai pembuka pagelaran.

Menjalani semua peran ini, saya belajar bagaimana caranya membagi waktu, menjaga energi, dan tetap bertanggung jawab pada setiap tugas saya. Walaupun banyak kendala, pengalaman ini justru membentuk saya menjadi lebih disiplin, lebih sabar, dan lebih siap menghadapi tekanan dalam sebuah proyek berskala besar.