Untuk uprak kelas XII ini, saya mendapat bagian sebagai scriptwriter dan juga aktor. Awalnya saya pesimis terhadap tugas yang diberikan (scriptwriter). Namun, Daven dan Valerie, selaku sutradara, meyakinkan saya bahwa saya mampu untuk menjadi  scriptwriter dan beberapa teman saya juga mendukung saya serta membantu saya. Setelah beberapa hari menyusun script yang dibimbing oleh sutradara, kami tim scriptwriter menyelesaikan script untuk uprak kami dan mulai membagi peran para pemain.

Saat pembagian peran, saya mendapat peran sebagai ayah dari tokoh “Sandjaja” dan saya merasa senang karena peran yang harus dimainkan hanya sedikit. Akan tetapi, sekalipun peran saya sedikit, saya juga memegang peran krusial dimana saya menjadi scene penutup dari penampilan uprak kelas kami. Saat proses berlatih, kami seringkali kurang serius dan masih banyak bercanda. Namun, seiring berjalannya waktu, kami sadar bahwa waktu kami tidak banyak lagi dan kami sudah harus mulai serius berlatih.

 

 

Sejak awal Januari, kelas kami hampir berlatih setiap  hari, baik di sekolah, di rumah Sydney, maupun di studio. Sudah berbagai jam kami habiskan untuk menyempurnakan pertunjukkan ini. Tidak sedikit pula uang yang sudah dikeluarkan oleh kelas kami dan tidak terhitung juga tenaga yang sudah kami kerahkan.

 

Semakin mendekati hari penampilan, tantangan tidak kunjung berhenti, justru semakin banyak perdebatan. Hampir setiap hari ada evaluasi, ada perombakan, dan lainnya. Namun, usaha yang kami keluarkan membuahkan hasil yang maksimal. Kelas XII A2 terpilih menjadi promotor untuk penampilan sesi 1 dan kelas kami tampil dengan maksimal dan mendapat hasil yang memuaskan. Semua jerih payah kami terbayarkan pada hari itu. Saya belajar bahwa tidak mudah untuk menyatukan 36 siswa dalam 1 kelas untuk 1 proyek. Akan tetapi, kelas kami berhasil menghadapi tantangan tersebut dan kami menjadi semakin erat satu dengan yang lain dan mewujudkan bentuk solidaritas dan kekompakan kelas kami.